Jumat, 05 Oktober 2012

Orang tua suruh anak pukul guru

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Kekerasan dapat terjadi dimana-mana, termasuk di sekolah. Adapun definisi dari kekerasan pada siswa adalah suatu tindakan keras yang dilakukan terhadap siswa di sekolah dengan dalih mendisiplinkan siswa (Charters dalam Anshori, 2007). Ada beberapa bentuk kekerasan yang umumnya dialami atau dilakukan siswa, yaitu:
- Kekerasan fisik : kekerasan fisik merupakan suatu bentuk kekerasan yang dapat mengakibatkan luka atau cedera pada siswa, seperti memukul, menganiaya, dll.
- Kekerasan psikis : kekerasan secara emosional dilakukan dengan cara menghina, melecehkan, mencela atau melontarkan perkataan yang menyakiti perasaan, melukai harga diri, menurunkan rasa percaya diri, membuat orang merasa hina, kecil, lemah, jelek, tidak berguna dan tidak berdaya.
- Kekerasan defensif : kekerasan defensife dilakukan dalam rangka tindakan perlindungan, bukan tindakan penyerangan (Rini, 2008).
- Kekerasan agresif : kekerasan agresif adalah kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu seperti merampas, dll (Rini, 2008).

Berikut ini merupakan cuplikan kronologi kejadian “Orang Tua Suruh Anak Pukul Guru”, salah satu contoh dari bentuk kekerasan yang terjadi di dalam dunia pendidikan:
Sabtu pekan lalu (24/9/11), Khalid atas perintah Syahbudin (ayahnya), memukul Syafrudin gurunya sendiri di sebuah ruang kelas Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Bima-NTB. Pemukulan guru oleh murid ini terjadi di depan puluhan murid lain, sejumlah guru, dan tiga orang polisi.
Tak puas, Syahbudin bahkan sempat mengangkat meja kelas untuk dibantingkan ke muka Syafrudin. Namun tindakan itu buru-buru dicegah guru-guru lain. Syafrudin kesakitan karena dipukul dan dipermalukan lalu menangis.
Kemarahan Syahbudin dipicu laporan Khalid telah dipukul Syafrudin, sehari sebelumnya. Sang guru kesal karena merasa dipermainkan murid-muridnya, termasuk Khalid yang menyembunyikan bola di meja guru. Akibat pukulan itu konon wajah Khalid memar.
Kejadian seorang guru dipukul muridnya di Bima, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu, rupanya menyulut kemarahan berbagai pihak, bahkan mengundang solidaritas para guru di kota itu. Mereka mogok kerja hingga beberapa sekolah terpaksa diliburkan.
Sejumlah mahasiswa di Kota Bima berunjuk rasa di Gedung Sekretariat PGRI, Kamis (29/9/11). Mereka bahkan nyaris menduduki gedung tersebut. Para mahasiswa mengecam PGRI yang dinilai lamban bertindak terkait kasus pemukulan Syafrudin, seorang guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Kota Bima oleh muridnya sendiri [baca: Orangtua Suruh Anak Pukul Guru].
Para calon guru itu mendesak Kementerian Agama Kota Bima memecat Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Bima. Tuntutan itu terkait cara kepala sekolah yang terkesan membiarkan insiden terjadi.
Sebelumnya, mahasiswa berunjuk rasa di Kantor Kementrian Agama Kota Bima. Pada mahasiswa Kepala Kantor Kemenag berjanji menindak Kepala MTSN 1 Bima jika terbukti membiarkan terjadinya kekerasan di lingkungan sekolahnya.
Kasus ini juga mengundang solidaritas guru lainnya. Di sejumlah sekolah para guru mogok mengajar. Akibatnya sekolah-sekolah tersebut diliburkan. Para guru menuntut polisi dan pemerintah memproses kasus itu secara adil.
Menyusul pemukulan itu, pihak sekolah menghukum Syafrudin dengan memberinya skorsing, sedangkan Khalid diliburkan untuk sementara. Belum jelas apakah karena didemo mahasiswa atau karena sebab lain, PGRI Kota dan Kabupaten Bima rencananya akan menggelar unjuk rasa Senin mendatang (diperkirakan tanggal 4/10/11).
Kejadian ini mempermalukan institusi pendidikan di Bima. Pihak-pihak terkait didesak untuk bertindak tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

            Faktor-faktor penyebab kekerasan dalam dunia pendidikan, yaitu:
- Dari guru
Ada beberapa faktor yang menyebabkan guru melakukan kekerasan pada siswanya, yaitu:
1. Kurangnya pengetahuan bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku, malah beresiko menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa.
2. Persepsi yang parsial dalam menilai siswa. Bagaimana pun juga, setiap anak punya konteks kesejarahan yang tidak bisa dilepaskan dalam setiap kata dan tindakan yang terlihat saat ini, termasuk tindakan siswa yang dianggap "melanggar" batas. Apa yang terlihat di permukaan, merupakan sebuah tanda/sign dari masalah yang tersembunyi di baliknya. Yang terpenting bukan sebatas "menangani" tindakan siswa yang terlihat, tapi mencari tahu apa yang melandasi tindakan/sikap siswa.
3. Adanya masalah psikologis yang menyebabkan hambatan dalam mengelola emosi hingga guru yang bersangkutan menjadi lebih sensitif dan reaktif.
4. Adanya tekanan kerja: target yang harus dipenuhi oleh guru, baik dari segi kurikulum, materi maupun prestasi yang harus dicapai siswa didiknya sementara kendala yang dirasakan untuk mencapai hasil yang ideal dan maksimal cukup besar.
5. Pola authoritarian masih umum digunakan dalam pola pengajaran di Indonesia. Pola authoritarian mengedepankan faktor kepatuhan dan ketaatan pada figur otoritas sehingga pola belajar mengajar bersifat satu arah (dari guru ke murid). Implikasinya, murid kurang punya kesempatan untuk berpendapat dan berekspresi. Dan, pola ini bisa berdampak negatif jika dalam diri sang guru terdapat insecurity yang berusaha di kompensasi lewat penerapan kekuasaan.
6. Muatan kurikulum yang menekankan pada kemampuan kognitif dan cenderung mengabaikan kemampuan afektif (Rini, 2008). Tidak menutup kemungkinan suasana belajar jadi kering dan stres berat, dan pihak guru pun kesulitan dalam menciptakan suasana belajar-mengajar yang menarik, padahal mereka dituntut mencetak siswa-siswa berprestasi.

- Dari siswa
Sikap siswa tidak bisa dilepaskan dari dimensi psikologis dan kepribadian siswa itu sendiri. Adanya suatu kecenderungan tanpa sadar bisa melandasi interaksi antara siswa dengan pihak guru, teman atau kakak kelas atau adik kelas.
Perasaan bahwa dirinya lemah, tidak pandai, tidak berguna, tidak berharga, tidak dicintai, kurang diperhatikan, rasa takut diabaikan, bisa saja membuat seorang siswa malah memancing orang tersebut untuk meresponsnya meskipun dengan cara yang tidak sehat. Contohnya: tidak heran jika anak berusaha mencari perhatian dengan bertingkah yang memancing amarah orang, dengan tujuan agar mendapat perhatian.
Sebaliknya, bisa juga perasaan tidak berharga dikompensasikan dengan menindas pihak lain yang lebih lemah supaya dirinya merasa hebat.

- Dari keluarga
1. Pola Asuh yang salah, misalnya: orang tua terlalu memanjakan dan atau terlalu mengekang.
2. Orangtua mengalami masalah psikologis, misalnya: orang tua terlalu sering memarahi anak.
3. Keluarga disfungsional, misalnya: keluarga yang salah satu anggotanya sering memukul (menyiksa fisik atau emosi) dan atau sering adanya kejadian konflik terbuka.

- Dari lingkungan
1. Adanya budaya kekerasan.
2. Tayangan televisi yang banyak berbau kekerasan, dsb.

Cara untuk mengatasi kekerasan dalam dunia pendidikan, yaitu:
- Bagi guru
1. Hindari memarahi murid jika murid berbuat salah.
2. Sabar dalam menghadapi murid yang nakal.
3. Anggaplah murid adalah teman atau keluarga bagi guru.
4. Berbahagialah saat melakukan pendidikan.

- Bagi siswa
1. Hilangkan rasa balas dendam kepada adik tingkat, jika pada saat perkenalan pendidikan siswa diperlakukan tidak enak dari kakak tingkat siswa sebelumnya.
2. Jika pernah mengalami kekerasan dalam pendidikan, maka segera sharing pada orangtua atau guru atau orang yang dapat dipercaya mengenai kekerasan yang dialaminya sehingga siswa tersebut segera mendapatkan pertolongan untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya (dengan catatan: jangan mengompor-ngompori orang yang dicurhati untuk melakukan/membantu balas dendam atas permasalahannnya).

- Bagi orang tua atau keluarga
1. Menjalin komunikasi yang efektif dengan guru dan sesama orang tua murid untuk memantau perkembangan anaknya.
2. Orangtua menerapkan pola asuh yang baik.
3. Hindari tayangan televisi yang tidak mendidik.
4. Segera menyelesaikan permasalahan yang terjadi, meminta bantuan pihak professional jika persoalan dalam rumah tangga tidak dapat diatasi sendiri.

- Bagi sekolah
1. Menanamkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah.
2. Memperbaiki kebijakan dan sistim pendidikan yang berkenaan dengan pola pendidikan yang hanya mengutamakan kualitas kognitif dan sering melupakan pembinaan sikap dan mental para siswa, melakukan kerjasama antar pihak sekolah dan warga sekolah dalam rangka pelaksanaan pendidikan yang baik.
3. Membatasi penayangan-penayangan kekerasan yang dapat dilihat langsung di sekolah.
           
Kembali pada persoalan di atas, seharusnya kepala sekolah tidak boleh bertindak seperti itu. Bagaimana mungkin kepala sekolah bisa membiarkan wali murid menghakimi guru begitu saja, tanpa mempertimbangkan dahulu bagaimana semestinya tindakannya sebagai kepala sekolah itu harus adil dan bijaksana. Apalagi guru tersebut langsung diskorsing. Sebagai kepala sekolah harus memiliki dimensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Sedangkan, sebagai guru harus memiliki dimensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan sosial.
            Apa jadinya negeri ini, jika murid sudah berani melawan gurunya, dunia ini kini seakan terbalik.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2009 Winda's home