Senin, 16 Januari 2012

Jalan-jalan ke Sengkaling Menjelang PKL


Keindahan dan kesejukan di Malang memang tak dapat pungkiri. Nah..., berbekal minat yang sama untuk liburan bareng, akhirnya kami voting dan memutuskan untuk memilih jalan-jalan ke Sengkaling di Batu – Malang. Mau tahu kisah perjalanan kami? mau tahu, mau tahu, mau tahu? jama’ah, oh... jama’ah, alhamdulillah.... (meniru.com).
Kami berangkat dari Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya pada hari Jumat, tanggal 23 September 2011, pukul 07.30 WIB menuju Malang. Sampai di kota Batu – Malang kurang lebih sekitar pukul 10.30 WIB. Seharusnya sih..., satu atau dua jam sudah sampai di Malang, tapi apa mau di kata..., karena perjalanan kami melewati Porong (yang terkenal dengan sebutan Lumpur Lapindo) maka mau tidak mau... kami harus bersabar dengan kemacetan yang sedang melanda kami... (xixixixi...).
Untuk mengatasi kejenuhan selama perjalanan, kami pun bernyanyi-nyayi di dalam bus. Selain itu, kami juga memakan makanan ringan (ngemil.com) sambil menikmati pemandangan sekitar dan juga sambil berbincang-bincang ria (sedikit nggosip, biasa cewek... hehe...). Terlihat hiruk-pikuk silih berganti, apalagi saat itu merupakan jam efektif bagi para pekerja.
Tak terasa..., ternyata kami telah sampai di Kota Pandaan, dimana... suasananya berubah menjadi berhawa dingin, karena sebelum sampai di kota ini... kami merasa gerah hidup di Surabaya yang begitu panas (bukannya ngelu sih, kenyataan... haha...).
Setelah beberapa saat, akhirnya sampai juga di tempat tujuan, yakni Kota Batu – Malang, lokasi tepatnya di Sengkaling. Wuih... senangnya, kami pun langsung turun dari bus, kemudian bergegas masuk ke tempat wisata setelah mendapatkan tiket masuknya (berupa gelang kertas berwarna hijau).
Bila dilihat dari missi sebenarnya, tujuan utama kami di Malang ialah praktek kerja lapangan (PKL) bersama teman sekelas (bukan wisata). Namun karena mumpung tempat yang dituju adalah kota Malang, maka kami pun berinisiatif untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum melaksanakan PKL. Apalagi tempat PKL kami terpisah, jadi sayang banget kan kalau tidak menyempatkan waktu untuk sekedar bermain atau bercanda tawa bersama (lebay.com).
Tau nggak, kalian? ternyata..., eh... ternyata..., sesampainya di lokasi wisata dan ketika kami memasuki kawasan wisata, disana itu sepi banget (kosong melompong). Jadi, tak ada pengunjung lain yang datang, yang ada hanyalah rombongan kami. Apalagi hari itu adalah hari Jumat, sehingga waktunya untuk melaksanakan shalat Jumat bagi para kaum Adam, baik pengunjung maupun pekerja disana.
So..., kami hanya bisa duduk manis sambil menunggu selesainya shalat Jumat. Hmm... menunggu itu membosankan banget, ya?! (seperti lirik lagu: menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku... wkwkwk...). Untuk itu, hal yang paling sering kami lakukan agar mengurangi rasa kebosanan adalah seperti biasa... kami makan snack ringan sambil duduk-duduk bahkan sambil tidur-tiduran, dan tak lupa saling berbagi cerita (curhat-lah, istilahnya). Akhirnya datang juga..., setelah sekian lama kami menunggu... para kaum Adam (khususnya para pekerja yang disana) turun dari Masjid.
Dengan cepat para pekerja (yang kebanyakan cowok) telah berganti pakaian, dari semula yang berpakaian busana muslim (koko) menjadi seragam kerja. Kemudian, para pekerja segera menempati posisi kerja mereka, misalnya: membuka wahana kapal bebek-bebekan, wahana 3D, dan sebagainya.
Awalnya, kami bingung memikirkan kegiatan apa yang paling enak untuk dilakukan di wisata ini (sambil menatapi kapal bebek-bebekan), maka dari situ langsung muncul sebuah gagasan ”ayo kita menaikinya” secara serentak. Kontan kami pun langsung kembali bersemangat. (Chaiyyo...)
Tiba-tiba setelah kami membeli tiket kapal bebek-bebekan tersebut, kami merasa agak canggung. Mengapa demikian? karena kami semua belum pernah menaikinya (bisa dibayangkan kan ke-ndeso-an kami, ...ndeso... haha...). Hal itulah yang membuat perasaan kami menjadi sedikit was-was (bisa..., nggak..., ya..., mengoperasikannya). Namun, kami tetap nekat untuk mencobanya dengan didasari rasa keinginan yang tinggi. Semoga berhasil dan selamat sampai tujuan (doa kami waktu itu). Amin.
Tak disangka..., ternyata kami berhasil mengendalikan kapalnya, walaupun sedikit menabrak-nabrak batas tepinya (hoho...). Sedikit kesusahan juga sih, waktu kami mau membelokkan ke kiri malah kapalnya membelok ke kanan, begitu sebaliknya (ini yang salah kapalnya atau orangnya yang nggak mahir...., ya... hiks...hiks...). Untuk memundurkan kapal pun kami masih kerepotan (wah... ini mah... nggak sedikit, tapi belum bisa total... uhuy). Maklum saja, namanya juga first time (ce’ileh..., berusaha membela diri). Tidak ada rasa takut ketika kami menaikinya (padahal sebelum menaikinya kami merasa cemas kalau saja kami tidak kuat untuk membawanya berjalan), eh... sebaliknya justru kami malah tertawa bersama-sama. Dan tak pelak, semua mata tertuju pada kami (alay..., ala miss2-an... hwehehehe...).
Di saat kami masih duduk di kapal, tepatnya berada di tengah kolam air yang berwarna hijau itu, barulah kemudian lumayan banyak pengunjung yang berdatangan dan mengikuti jejak kami untuk menaiki kapal bebek-bebekan ini. Dengan merogoh kocek Rp. 10.000 saja, pengunjung dapat menaiki kapal ini selama 15 menit atau bahkan sepuasnya ketika sepi pengunjung (promo.com... hahay...).
Setelah puas menaikinya, kami pun segera merapat ke tepian semula untuk menyandarkan kapal (tutur bahasanya ala tentara, gaya... sedikit nggak apa-apa kan). Lalu kami menuju mushola untuk menghadap kiblat (alias shalat dhuhur). Berikutnya, oh... ya... kami juga menyempatkan diri untuk berpose-pose ria lho. Ehm... nggak sadar ternyata waktu jalan-jalannya sudah hampir habis (sudah ada panggilan alam di pusat informasi wisata... okey dech...). Dan selanjutnya, kami makan bersama sebelum bertolak menuju ke penginapan. Sesudah itu, kami sampai di penginapan/villa Dibino sekitar pukul 16.30 WIB (kalau nggak salah..., seingatku begitu..., peace love, rek) di daerah Songgoriti – Batu – Malang. Di malam hari, kami mengadakan technical meeting mengenai persiapan PKL. Dan keesokan harinya barulah kami melaksanakan PKL.
Dengan berakhirnya jalan-jalan kami di wisata Sengkaling, maka berakhir pula cerita ini. Sekian dan terima kasih telah berkenan membaca ceritaku.
Wassalam.
Dari kiri: fifa, ri2s, winda, farida, & ki2.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright 2009 Winda's home